filsafat
tugas filsafatku...gak tau dech ne comot2 dari mana aja...hahahahai............
Aristoteles; Seorang Organisator Yang Teliti Dan Ingin
Menjernihkan Konsep-konsep Kita (Dunia Sophie).
I. Pendahuluan
Bagi
para peminat filsafat, nama Aristoteles sudahlah tentu tidak asing lagi. Aristoteles
adalah salah satu bapak filosof yunani yang sangat terkenal dan dihormati
banyak orang. Di dalam buku “Dunia Sophie” karangan Jostein Gaarder disebutkan,
bahwa Aristoteles adalah filosof besar Yunani yang terakhir. Dan bukan hanya
itu, Aristoteles pun seorang ahli biologi besar Eropa yang pertama. Hal ini
sangat menarik dimana dia adalah seorang filusuf yang sekaligus ahli biologi.
A.
Aristoteles Dan Kisah Hidupnya
Aristoteles
dilahirkan di Stageira pada semenanjung Kalkidike di Trasia (Balkan) yang terletak di sebelah utara Yunani, atau yang kini menjadi Yunani
Utara pada tahun 384 SM dan meninggal di Kalkis pada tahun 322 SM dalam
usia 63 tahun. Ayah Aristoteles adalah seorang sahabat dan dokter
keluarga Amyntas II, raja Macedonia, ayah raja Philippos, dan kakek Alexandros
yang kemudian dikenal dengan nama Alexander Agung. Meskipun telah lama tinggal
di Macedonia, tetapi Mashaon adalah orang asli Yunani. Berbeda dari Plato, yang merupakan keturunan
bangsawan, Aristoteles berasal dari keluraga menengah. Dari kecil, Aristoteles diasuh oleh ayahnya sendiri yang bernama
Mashaon sampai sekitar usia 18 tahun. Ia mendapat pelajaran dalam hal teknik
membedah dari ayahnya. Oleh karena itu, perhatian Aristoteles banyak tertumpah
pada ilmu-ilmu alam, terutama Biologi. Ayahnya berharap jika
besar nanti, Aristoteles dapat menggantikan ayahnya sebagai dokter keluarga
raja Macedonia. Namun, harapan ayahnya tidak terwujud, karena sebelum
Aristoteles berhasil menamatkan pelajarannya, ayahnya telah meninggal dunia.
Meskipun begitu, sanga ayah telah berhasil mewariskan minat yang besar terhadap
biologi kepada anaknya yang tampaknya terhadap karyanya di kemudian hari.
Selanjutnya pada saat ayahnya sudah meninggal,
Aristoteles datang ke Akademi Plato dan menjadi murid Plato ketika usia Plato
61 tahun. Selama 20 tahun Aristoteles menjadi murid dari seorang filsuf besar
Plato dan bergaul dengannya. Sebagai bibliotik yang pertama ada di Athena.
Aristoteles sangat gandrung kepada guruya, sehingga ia mendirikan perpustakaan
filsafat sendiri untuk menghormati gurunya tersebut. Oleh karena itu, rumah
filsuf ini diberi nama “Rumah Pembaca”. Aristoteles juga dianggap
sangat berjasa dalam meletakkan sendi-sendi pertama rasionalitas Barat ada,
yang merupakan murid Plato. Meskipun diantara keduanya terdapat
perbedaan-perbedaan pandangan, tetapi Aristoteles dianggap sebagai murid yang
mewarisi pemikiran-pemikiran gurunya, dan dianggap sebagai salah satu tokoh
penggerak zaman. Namun ada juga yang
mengatakan bahwa sepeninggal ayahnya, Aristoteles yang masih muda itu hidup
berfoya-foya dan menghambur-hamburkan harta warisan orang tuanya. Ketika harta
orang tuanya telah habis dan lenyap, dia mendaftarkan diri sebagai tentara
untuk menyambung hidupnya agar tidak mati kelaparan. Menurut versi ini, sesudah
mendapat bekal dan modal yang cukup, Aristoteles kemudian kembali ke kota
kelahirannya di Stageira dan salama beberapa tahun di sana ia dikenal sebagai
seorang dokter muda yang mencoba mempraktikkan segala ilmunya yang ia peroleh
dari ayahnya. Pada usia 30 tahun, ia meninggalkan Stageira dan berangkat menuju
Athena, lalu mendaftarkan diri menjadi murid Plato. Jika versi ini benar,
berarti Aristoteles hanya belajar di Akademia Plato selama delapan tahun, dan
bukan 20 tahun. Namun, dalam beberapa rujukan cenderung mendukung pendapat
pertama, bahwa Aristoteles belajar di Athena selama 20 tahun, dan bukan delapan
tahun seperti pada pendapat kedua.
Selama belajar di Akademia
Plato, Aristoteles mempelajari berbagai cabang ilmu pengetahuan seperti
Matematika, Politik, Etika dan berbagai ilmu pengetahuan lain. Selain itu, ia
mempunyai hobi mengumpulkan buku sehingga dalam waktu yang relatif singkat,
rumahnya telah menjadi penuh buku, sehingga menyerupai perpustakaan. Tidak
heran jika Si maha guru Plato, menyebut rumah Aritoteles sebagai “rumah si
tukang baca”. Aristoteles merupakan salah satu murid Plato yang sangat cepat dikenal
karena dia tidak mau sekedar bernaung dibawah keagungan sang guru. Itu pula
sebabnya dia dikenal sebagai murid “tukang kecam” dan senang mendebat sang guru
yang banyak dihormati oleh banyak muridnya yang lain, kendati kecamannya sering
kali tidak relevan, dan menunjukkan ketakfahamannya terhadap ajaran Plato.
Namun, jika ditanya mengapa dia mengecam Plato, dia akan menjawab : “Amicus
Plato, sed magis amica veritas” yang berarti “Plato kukasihi, tapi aku
lebih mengasihi kebenaran.” Oleh karena itu, sebagian pakar berpendapat bahwa
hubungan Aristoteles dan Plato sesungguhnya telah retak sejak jauh sebelum
menjelang kematian Plato. Oleh sebab itu, Plato tidak menunjuk Aritoteles untuk
menjadi penggantinya dalam memimpin Akademia, melainkan menunjuk Speusippos.
Hal itu tentu sangat mengecewakan Aristoteles.
Plato meninggal pada 347
SM, dan pada tahun itu juga Aristoteles bersama dengan teman sekelasnya bernama
Xenokrates meninggalkan Athena. Mereka berangkat menuju ke pantai Asia Kecil,
pertama-tama tinggal di Atarneus, lalu pindah ke Assos kemudian tinggal di
Mitylene. Penguasa Atarneus saat itu adalah Hermeias yang adalah alumnus
Akademia Plato. Tentu kedatangan Aristoteles dan Xenakrates dismbut gembira
oleh Hermeias, bahkan meminta mereka untuk membantu mengajar di sekolah yang
telah didirikan oleh Erastos dan Koriskos, dua murid yang dikirim Plato dari
Akademia atas permintaan Hermeias. Hubungan mereka sangat akrab, bahkan
akhirnya Aristoteles menikah dengan Pythias, yang merupakan anak angkat dan
kemenakan Hermeias sendiri. Sepasang insan itu hidup bahagia. Namun, setahun
kemuadian yaitu tahun 343 SM negara yang dikuasai Hermeias ditaklukkan oleh
tentara Persia dan Hermeias dibawa ke Persia dan dibunuh disana. Akhirnya
Aristoteles dan keluarganya menyingkir ke daerah-daerah sekitar dan menetap
beberapa waktu di Mitylere atas undangan Theophrastus, sahabatnya semenjak
mereka belajar di Akademia Plato.
Di tahun 342 SM Aristoteles menerima undangan khusus dari Philippos, raja
Macedonia, agar dia bersedia mendidik putra mahkotanya, Alexandros atau
Alexander. Undangan itu dipenuhi. Dia mendidik Alexandros selama dua tahun, dan
berhasil mendidik calon pemimpin yang terampil, meski sebelumnya Alexandros
dikenal sebagai seorang remaja yang serampangan, mudah tersinggung, mudah
marah, dan berbagai perangai buruk lainnya. Alexndros juga terkesan
dengan pendidikan yang diberikan oleh Aristoteles, sehingga meskipun
telah dilantik menjadi pejabata raja pada 340, Alexandros tetap
menghoramti Aristoteles sebagaiman menghormati ayahnya sendiri.
Tahun 336 SM Philippos wafat dan digantikan oleh putra mahkota yang sudah
dipersiapkan, yaitu Alexadros. Ia menaklukkan Persia dan berbagai tempat
lainnya, yang di kemudian hari ternyata merupakan penaklukan dunia. Di saat
Alexander berkuasa, Aristoteles kembali ke Athena. Ia kemudian mendirikan
sekolah sendiri di Athena, yaitu di lapangan senam yang merupakan bagian dari
halaman Kuil Dewa Apollo Lykeios (Dewa Pelindung terhadap serigala). Karena
terletak di halam Kuil Lykeios, maka sekolah itu dinamakan Lykeion yang dalam
bahasa Latin disebut Lyceum. Sekolah itu kemudian menjadi populer mengalahkan
popularitas sekolah Isocrates yang selama ini telah berhasil mendidik para
pemimpin Athena, dan berada di urutan kedua setelah Akademia Plato yang saat
itu dipimpin oleh Xenakrates yang menggantikan Speusippos.
Aristoteles jatuh sakit dan meninggal dunia pada 322 SM, yang kemungkinan
disebabkan oleh pekerjaannya yang tak mengenal batas. Saat meninggal dunia, ia
berumum sekitar enam puluh tahun.
B. Aristoteles Filsuf Yang
Berkarya
Selain semua itu, Aristoteles juga dianggap sebagai peletak tonggak dasar
dalam sejarah pemikiran Barat. Bahkan Michael H. Hart menilai bahwa Aristoteles
adalah seorang filosuf dan ilmuwan terbesar dalam dunia masa lampau. Dia
memelopori penyelidikan ihwal logika, memperkaya hampir tiap cabang falsafah
dan memberi sumbangsih tak terperikan besarnya terhadap ilmu pengetahuan. Meskipun
banyak ide-ide Aristoteles yang tampaknya kini sudah ketinggalan zaman, tetapi
yang paling penting dari apa yang pernah dilakukannya adalah pendekatan
rasional yang senantiasa melandasi karyanya. Filsafat Aristoteles berkembang dalam tiga tahapan yang pertama ketika dia
masih belajar di Akademi Plato ketika gagasannya masih dekat dengan gurunya
tersebut, kemudian ketika dia mengungsi, dan terakhir pada waktu ia memimpin
Lyceum mencakup enam karya tulisnya yang membahas masalah Logika yang dianggap sebagai karya-karyanya yang paling penting, selain
kontribusinya di bidang Metafisika, Fisika, Etika, Politik, Matematika, Astronomi Yunani awal, Ilmu Kedokteran, Ilmu Alam dan karya seni. Dia filosof orisinal, dia
penyumbang utama dalam tiap bidang penting falsafah spekulatif, dia menulis
tentang etika dan metafisika, psikologi, ekonomi, teologi, politik, retorika,
keindahan, pendidikan, puisi, adat-istiadat orang terbelakang dan konstitusi
Athena. Salah satu proyek penyelidikannya adalah koleksi pelbagai negeri yang
digunakannya untuk studi bandingan.
Menurut catatan sejarah,
Plato dan Aristoteles adalah guru dan murid yang merupakan dua tokoh besar
dalam sejarah, yang telah berhasil membentuk dan meletakkan dasar yang paling
kokoh bagi pembangunan kebudayaan dan peradaban Barat modern. Di sisi lain, meskipun
di sana sini terdapat perbedaan—bahkan pertentangan—antara kedua tokoh guru dan
murid itu, tetapi keduanya pantas dinobatkan menjadi pahlawan dunia dalam
bidang ilmu pengetahuan yang melepaskan dan membebaskan manusia dari belenggu
ketaktahuan agara manusia tahu bahwa dia tahu jika mau tahu.
Justin D. Kaptain menulis tentang hal itu sebagai berikut.
“To many, Plato represents
the lyrical, soaring imagination, while Aristotle represents investigation,
prosaic and eartbound. Plato seems inspired and inspiring, while Aristotle
seems tied to inflexible system and unrelenting logic. One is a reformer, a
prophet, and an artist, the other a comlier, an observer, and an organizer.
Plato seems to represent the highest nobility of thought and aspiration; Aritotle
seems content to accept and work within the day-to-day limitations of human
behaviour ...’’
“Bagi banyak orang, Plato
menunjukkan seorang yang antusias, dengan imajinasi yang begitu membumbung
tinggi, sementara Aristoteles melambangkan penelitian, menjemukan, dan terikat
pada bumi. Plato tampak bersembangat dan sanggup membangkitkan semangat, sedangkan Aristoteles
tampak terikat pada suatu sistem yang tidak luwes dan logika yang ruwet dan
kaku. Yang satu adalah seorang pembaharu, nabi, dan artis, yang lain adalah
seorang penyusun, pengamat, dan organisator. Plato tampak
melukiskan kemuliaan tertinggi dari pikiran dan aspirasi; sementara Aristoteles
kelihatan puas menerima dan bekerja dalam batasan-batasan hari-ke-hari dari
perilaku manusia...”
Salah satu karya
Aristoteles yang paling menonjol adalah penelitian ilmiah. Ia melakukan
penelitian bidang zoologi, biologi, dan botani ketika ia mernantau ke sekitar pantai Asia
Kecil dengan menggunakan segala fasilitas yang disediakan oleh Hermeias bersama
dengan Theophrastus. Selain itu, Aristoteles juga melakukan penelitian khusus
terhadap konstitusi dan sistem politik dari 158 negara kota (polis) di Yunani. Analisanya terhadap penelitiannya itu merupakan karya besar di bidang
politik dan telah meletakkan dasar yang teguh bagi ilmu politik yang disebut
Perbanding Pemerintahan dan Politik. Para cendekiawan di zaman purba mengatakan
bahwa karya tulis Aristoteles lebih dari 400 buku. Namun, sebagian besar telah
musnah. Dari sekitar 50 buku yang masih ada, hanya sekitar separuhnya yang
benar-benar merupakan hasil karya Aristoteles sendiri. Karya Plato begitu indah
dan menarik, sementra karya Aristoteles kurang begitu indah dan kurang menarik.
Will Ross Durant membagi karya Aristoteles ke dalam tiga bidang utama yaitu :
1. Karya tulis yang
bersifat populer.
2. Karya tulis yang berupa
kumpulan data ilmiah.
3. Bahan kuliah.
Selain itu, ada yang membagi karya tulis Aristoteles menjadi lima kelopok yaitu :
1. Kelompok Organon yang
terdiri atas :
a. Categoriae (kategori).
b. De Interpretatione ( tentang Penafsira).
c. Analytica Priora (Analitika yang pertama),
d. Analytica Posteriora (Analitika yang terakhir).
e. Topica (Topik).
f. De Sophisticis Elenchis (Cara berdebat kaum sufi).
3. Kelompok kedua terdiri
atas :
a. Physica (Fisika) terdiri atas delapan buku.
b. Methapysica (Metafisika) terdiri atas 14 buku.
c. De Caelo (Dunia atas / langit) terdiri atas empat buku.
d. De Generatione er Corruptione (Penjadian dan Pembiasaan) terdiri atas
dua buku.
e. Meteorologica (Meteorologi) terdiri atas empat buku.
3. Kelompok Biologi dan
Psikologi, terdiri atas :
a. De Partibus Animalium (Bagian Binatang).
b. De Motu Animalium (Tentang Gerak Binatang)
c. De Generatione Animalium (Tentang Kejadian Binatang).
d. De Anima (Tentang jiwa).
e. Parva Naturalia ( Sedikit tentang tata hidup kodrati), yang merupakan
kumpulan dari beberapa monografi tentang biopsikologi.
4.Kelmpok empat terdiri
atas :
a. Ethica Nicomachea, terdiri atas sepuluh buku.
b. Ethica Eudemia, terdiri atas tujh buku.
c. Politica (Politik), delapan buku.
5. Kelompok lima terdiri
atas :
a.Rhetorica (retorika)
b.Poetica (poetika).
C. Gambaran Pemikiran Aristoteles
Aristoteles adalah murid
Plato di akademi, dikenal sebagai pemikir emperis-realis berbeda dengan Plato
yang berfikir utopis dan idealis. Bisa jadi pemikiran Aristoteles adalah bentuk protes terhadap pemikiran dan
gagasan Plato. Negara menurut Aristoteles
diibaratkan dengan tubuh manusia, negara lahir dalam bentuk yang sederhana
kemudian berkembang menjadi kuat dan sederhana, setelah itu hancur dan
tenggelam dalam sejarah. Negara
terbentuk karena manusia yang membutuhkan Negara, manusia adalah makhluk yang
tidak bisa hidup tanpa orang lain, hubungan saling ketergantungan antara
individu dengan masyarakat.
Negara ideal menurut Plato
adalah city state, negara yang tidak terlalu luas dan tidak terlalu kecil,
negara luas akan sulit untuk menjaganya, sementara negara yang terlalu kecil
akan sulit untuk dipertahankan karena mudah dikuasai. Menurut Aristoteles,
negara adalah lembaga politik yang paling berdaulat, bukan berarti lembaga ini
tidak memiliki batasan kekuasaan. Tujuan terbentuknya negara adalah untuk kesejahteraan
seluruh penduduk atau rakyat bukan kesejahteraan individu. Negara yang baik
menurut Plato adalah negara yang dapat mencapai tujuan-tujuan negara. Sementara
negara yang tidak dapat melaksanakan tujuan-tujua tersebut maka adalah negara
gagal.
Idealnya menurut
Aristoteles monarki sebagai negara ideal, karena ia diperintah oleh seoarang
filsuf, arif dan bijaksana. Kekuasaan untuk kesejahteraan rakyat. Tapi
Aristoteles menyadari sistem monarki nyaris tak mungkin ada dalam realitas, ia
hanya gagasan yang lahir bersifat normative
yang sangat sukar diwujudkan dalam dunia emperis. Oleh karena itu
demokrasi menurut Aristoteles dari tiga bentuk negara itu yang bisa diwujudkan
dalam kenyataan. Berbeda dengan Plato tidak bersifat realistik ketimbang Aristoteles.
Berbeda dengan Plato mengenai hak milik, Aristoteles membenarkan adanya hak
milik individu, hak milik penting untuk memberikan tanggung jawab bagi
seseorang untuk mempertahankan kelangsungan kehidupan sosial.
Karya terbesar filsafat
yang dihasilkan oleh Aristoteles adalah logika, sehingga banyak orang
mengatakan dia sebagai penemu, atau bapak logika, sebebarnya istilah logika
tidak pernah dipergunakan oleh Aristoteles, tapi juga kita mengenal ini dengan
dealetika, inti dari logika adalah cara untuk menarik prosisi demi mencari
kebenaran, juga sebagai sarana untuk pengembangan ilmu pengetahuan. Pengaruh Aristoteles terhadap cara berpikir Barat di belakang hari sungguh mendalam. Di zaman dulu dan zaman pertengahan, hasil
karyanyaditerjemahkan ke dalam bahasa-bahasa Latin, Arab, Itali,
Perancis,Ibrani, Jerman dan Inggris. Penulis-penulis Yunani yang
munculkemudian, begitu pula filosof-filosof
Byzantium mempelajari karyanyadan menaruh kekaguman yang sangat. Perlu juga
dicatat, buahpikirannya banyak membawa pengaruh pada filosof Islam dan
berabad-abad lamanya tulisan-tulisannya mendominir cara berpikir Barat. Ibnu
Rusyd (Averroes), mungkin filosof Arab yang paling terkemuka, mencoba
merumuskan suatu perpaduan antara Teologi Islam dengan rasionalisme Aristoteles. Maimomides, pemikir paling terkemuka Yahudi abad tengah berhasil mencapai
sintesa dengan Yudaisme. Tetapi, hasil kerja paling gemilang dari
perbuatan macam itu adalah Summa Theologia-nya cendikiawan Nasrani St. Thomas
Aquinas. Di luar daftar ini masih sangat banyak kaum cerdik pandai abad tengah
yang terpengaruh demikian dalamnya oleh pikiran Aristoteles. Kekaguman orang
kepada Aristoteles menjadi begitu
melonjak di akhir abad tengah tatkala keadaan sudah mengarah pada penyembahan
berhala. Dalam keadaan itu tulisan-tulisan Aristoteles lebih merupakan semacam
bungkus intelek yang jitu tempat mempertanyakan problem lebih lanjut daripada
semacam lampu penerang jalan. Aristoteles yang gemar meneliti dan memikirkan
ihwal dirinya tak salah lagi kurang sepakat dengan sanjungan membabi buta dari
generasi berikutnya terhadap tulisan-tulisannya.
Beberapa ide Aristoteles
kelihatan reaksioner diukur dengan kacamata sekarang. Misalnya, dia mendukung perbudakan karena dianggapnya sejalan dengan garis
hukum alam. Dia percaya kerendahan martabat wanita ketimbang laki-laki. Kedua
ide ini-tentu saja-mencerminkan pandangan yang berlaku pada zaman itu. Tetapi,
tak kurang pula banyaknya buah pikiran Aristoteles yang mencengangkan
modernnya, misalnya kalimatnya, “Kemiskinan adalah bapaknya revolusi dan
kejahatan,” dan kalimat “Barangsiapa yang sudah merenungi dalam-dalam seni
memerintah manusia pasti yakin bahwa nasib sesuatu emperium tergantung pada
pendidikan anak-anak mudanya.” (Tentu saja, waktu itu belum ada sekolah seperti
yang kita kenal sekarang).
II. Resume
Mungkin sekali, yang paling penting dari sekian banyak hasil karyanya adalah penyelidikannya tentang teori logika, dan Aristoteles dipandang selaku pendiri cabang filosofi yang penting ini. Hal ini sebetulnya berkat sifat logis dari cara berfikir Aristoteles yang memungkinkannya mampu mempersembahkan begitu banyak bidang ilmu. Dia punya
bakat mengatur cara berfikir, merumuskan kaidah dan jenis-jenisnya yang
kemudian jadi dasar berpikir di banyak bidang ilmu
pengetahuan. Aristoteles tak pernah kejeblos ke dalam rawa-rawa mistik ataupun ekstrim. Aristoteles senantiasa bersiteguh mengutarakan pendapat-pendapat praktis. Sudah barang tentu, manusia namanya, dia juga berbuat kesalahan. Tetapi, sungguh menakjubkan sekali betapa sedikitnya kesalahan yang dia bikin dalam ensiklopedi yang begitu luas.
pengetahuan. Aristoteles tak pernah kejeblos ke dalam rawa-rawa mistik ataupun ekstrim. Aristoteles senantiasa bersiteguh mengutarakan pendapat-pendapat praktis. Sudah barang tentu, manusia namanya, dia juga berbuat kesalahan. Tetapi, sungguh menakjubkan sekali betapa sedikitnya kesalahan yang dia bikin dalam ensiklopedi yang begitu luas.
Dasar ajaran Aristoteles
tentang logika berdasrkan atas ajaran tentang jalan pikiran (ratio-cinium) dan
bukti. Jalan pikiran itu baginya berupa syllogismus (silogisme), yaitu putusan
dua yang tersusun sedemikian rupa sehingga melahirkan putusan yang ketiga. Untuk dapat
menggunakan syllogismus dengan benar, seseorang harus tahu benar sifat putusan itu.
Silogisme Aristoteles,
sebuah perjalanan logika deduktif yang amat panjang sejak 2500 tahun yang
silam, sejak Aristoteles dilahirkan di Stagira 384 SM. Namun, logika ini
akan tetap aktual dalam perjalanan manusia mencari makna diri di alam semesta ini,
bahkan sesungguhnya silogisme Aristoteleslah yang mendasari prinsip-prinsip
Antropik Kosmos (Cosmic Anthropic Principles). Konsep silogisme
Aristoteles adalah konsep dasar tatkala kesadaran manusia harus menapak awal
melihat fenomena alam semesta dan mulai menganalisa keajaiban kehidupan bumi,
kemudian manusia menyadari bahwa dirinya sendiri akan menjadi tiada seperti
spesies makhluk hidup lainnya.
Tatkala kesadaran manusia
harus muncul dan tumbuh, maka mulailah kita mencari asal muasal kesadaran itu
muncul. Kesadaran kita akan selalu mengarah kepada penyederhanan dan
penyederhanaan dari kompleksitas observasi seorang manusia seperti Aristoteles.
Solusinya adalah membuat sistematika yang logis dengan cara membuat
klasifikasi, inilah cara berfikir logis sang jenius Aristoteles tanpa mikroskop
dan tanpa teleskop disampingnya. Kita membayangkan pribadi pribadi
pengamat kosmos seperti Plato, Socrates, atau Aristoteles yang harus berfikir
tentang alam semesta tanpa penemuan dasar seperti mikroskop, teleskop, atau mesin
cetak Gutenberg, maka hasilnya berupa istilah klasifikasi orisinal mereka seperti analytica, dialectica, physica, matematica ,
scientifica, etica, politica, medica adalah penemuan luar biasa. Lucunya saat
kini kita seolah kembali ke cara berfikir ala Aristoteles dimana pada saat ini
fitrah manusia millennium mengalami ‘kebuntuan kosmologi’ dalam menyimpulkan
angka 13,700,000,000 tahun cahaya. Lantas apa maknanya silogisme Aristoteles
2500 tahun silam dan prinsip antropika millennium dalam memandang kosmos.
Jangan jangan Aristoteles-lah yang benar bahwa bumi adalah pusat alam semesta,
dan paling tidak kesadaran manusia di bumi adalah satu satunya kesadaran yang
pernah ditemukan di alam semesta, jadi barangkali bumi-lah pusat kesadaran
kosmos semesta. Karena Sang Pengamat Kosmos cuma Satu adanya di Bumi, Sang
Manusia. Quo Vadis Aristoteles.
Oleh karena itu, logika dapat dimengerti sebagai kerangka atau peralatan
teknis yang diperlukan manusia agar penalarannya berjalan dengan tepat. Dasar
logika Aristoteles adalah uraian keputusan yang kita temukan dalam bahasa (“the
analysis of judgement as found and expressed in human language”). Dalam
bahasa moderen, logika Aristoteles dapat dikatakan menggabungkan unsur
empiris-induktif dan rasional-deduktif.
Menurut Aristoteles, Nous
atau akal budi merupakan bagian yang paling mulia dalam diri manusia. Oleh
karena itu, dalam ajaran Aristoteles, unsur-unsur filsafat ke-Tuhanan bertitik
pangkal dariuraian kemampuan akal budi manusia itu. Dalam hal ini Aristoteles mencari
dasar uraiannya dalam pengamatan inderawi di dunia yang berubah-ubah. Dia
mengamati gerak, dan sampai kepada kesimpulan bahwa ada penggerak. Ia kemudian
juga menyimpulkan bahwa ada “yang menggerakkan tanpa digerakkan sendiri”. Jalan
pikiran Aristoteles itu diterapkan oleh Thomas Aquinas dalam “panca marga”
(quinque viae) guna menyatakan adanya Tuhan berdasarkan pengalaman dan
penalaran filosofis.
III. Analisis
Baik Plato maupun
Aristoteles adalah anak-anak peradaban Yunani, mereka lahir dan dibesarkan di
Yunani, yang dalam satu peradaban yang dikenal sebagai peradaban barat dewasa
ini. Tanpa peradaban Yunani dan Romawi, Romawi, Kristiani dan Islam, munculnya
peradaban barat hanya kebetulan saja “kebetulan belaka” peradaban barat tidak
memiliki orisionalitas, karena peradaban barat hanya kelanjutan dan cikal bakal
dari kelanjutan peradaban Yunani dan Romawi. Penulis melihat bahwa
Plato dan Aristoteles adalah pemikir pada masa Yunani, yang dibesarkan pada
peradaban Yunani. Aristoteles dikenal sebagai pemikir emperis-realis berbeda
dengan Plato yang berfikir utopis dan idealis. Bisa jadi pemikiran
Aristoteles adalah bentuk protes
terhadap pemikiran dan gagasan Plato. Aristoteles adalah murid dari Plato,
sementara Plato sangat dipengaruhi pemikirannya oleh Socrates, baik gagasan,
ide dan nilai- nilai yang disampaikan oleh Socrates, semuanya ditulis oleh
Plato dalam bentuk buku, terutama karyanya yang fenomenal sampai sekarang.
Penulis melihat pemikiran Plato relatif tidak memiliki nilai-nilai orisinalitasnya
dipertannyakan, sebab Plato hanya melanjutkan pemikiran-pemikiran yang
disampaikan oleh Socrates, bisa jadi penulis berani mengatakan pemikiran Plato
tidak ada tapi yang ada hanya pemikiran Socrates, tapi itu relatif menurut
penulis, karena Plato juga telah mengembangkan ide dan nilai-nilai yang
diajarkan oleh Socrates, sebab Socrates tidak pernah menulis pemikirannya dalam bentuk buku, disinilah barangkali kelemahan
Socrates.
IV. Kesimpulan
Dari uraian pada paragraf-paragraf diatas, dapat disimpulkan bahwa
Aristoteles mempunyai dasar-dasar ajaran tentang filsafat yang kemudian banyak
berkembang di Barat. Meskipun demikian, ada juga cendekiawan muslim yang
terpengaruh oleh pemikiran filsafatnya.
Dalam filsafatnya,
Aristoteles bertitik tolak dari apa yang dia amati dalam hidup manusia dan
hidup masyarakat. Dari praksis nyata dan data-data, dia kemudian menyimpulkan
menjadi suatu theoria yang meliputi segala data pengamatan itu.
Karya Aristoteles yang
cukup banyak mencakup berbagai cabang ilmu pengetahuan. Selain mengajarkan
tentang filsafat logika, filsafat pengetahuan, dan filsafat metafisika,
Aristoteles juga mengajarkan filsafat etika, filsafat negara, filsafat manusia
dan sebagainya. Hal ini menunjukkan bahwa Aristoteles merupakan tokoh
yang luas ilmu pengetahuannya dan merupakan ilmuwan yang pantas
mendapatkan acungan jempol.
Wallahu a’lam bi al-shawab.
V. Daftar
Pustaka
Joestin Gaarder, 2011. Dunia Sophie, Mizan
Media Utama, Bandung.
Bertrand
Russell, 2007. Sejarah Filsafat Barat, Pustaka Pelajar, Yogyakarta.
Drs.
Atang Abdul Hakim, MA. dan Beni Ahmad Saebani, M.Si., 2008. Filsafat Umum
Dari Metologi Sampai Teologi, Pustaka Setia, Bandung.
Bambrough, Renford, Ed.
The Philosophy
of Aristotle, New York :
New American Library, 1963.
Brill’s., E.J. , First
Encyclopaedia of Islam 1913-1936, Vol. I, Leiden : E.J. Brill, 1993.
Durant,
Will Ross, The Story of Philosphy, New York : Pocket Books, 1953.
Hart, Michael H, Seratus
Tokoh Yang Paling Berpengaruh Dalam Sejarah, Terjemahan Mahbub Djunaidi,
Jakarta : Dunia Pustaka Jaya, 1983.
Rapar, J.H., Filsafat
Politik Aristoteles, Jakarta : RajaGrafindo Persada, 1993.
Safra, Jacop E., The
New Encyclopaedia Britannica, Vol. I, Edisi ke 15, Chicago :
Encyclopaedia Britannica Inc, 2005.
Kaptain,
Justin D., ed., The Pocket Aristotle, New York : Pocket Books, 1958
Poedjawijatna,
Pembimbing Ke Arah Alam Filsafat, Jakarta : Rineka Cipta, 2005.
Sutrisno, Mudji dan
Hardiman, Budi, Ed., Para Filsuf Penentu Gerak Zaman, Yogyakarta :
Kanisius, 1992.
Dari
Situs Internet :
http://www.geocities.com/memorigin/Aristoteles.htm
http://id.wikipedia.org/wiki/Aristoteles
Comments
Post a Comment