C.H -meracau-
Pagi menjelang. Dan tentunya aku pasti kesiangan, hahaha. Buka mata
dan tangan mulai bergrilya meraba, yupz ketemu juga HP buntutku. Yah, HP, walau buntut dan bentuknya kecil mungil
seakan hal yang tak berdaya, tapi sosok HP ini sebenarnya sangat sakti. kalo
tak ada dia rasanya bisa gila. ku kira kau juga pasti merasa demikian bukan???
Ku buka sosok sakti ini alih-alih untuk melihat sudah jam berapa, dan cek ricek
sms berharap ada yang menyapa di pagi ini. ternyata baru jam 8.20 WIB dan tetap
tak ada ucapan selamat pagi. Hmm ya sudahlah beranjak ke jadwal kuliahku.
sebelum membukanya aku berdoa dalam hati dengan sangat sunguh-sungguh “semoga
pagi ini gak ada kuliah”. Dan hasilnya
adalah “STATISTIKA jam 08.00 WIB”. hadeeh, telat 20 menit. Demi
kuliah aku langsung kucek-kucek muka, ganti baju dan berangkat kuliah tanpa
mandi.
(demi kuliah??? kaena males mandi aja kali...??? haha).
Kampus, membuatku sering
mengumpat tak jelas. menyebalakn sekali tradisi-tradisi yang ada di perkuliahan
ini. banyak hal-hal yang menurutku dan kawan-kawanku tak rasioanal padahal di
kawasan orang-orang yang penuh intelektualitas. Di sebuah sanggar seni aku
pernah berbincang dengan seseorang, dia melontarkan pernyataan brgini ”sejak
kapan orang yang pake sepatu itu resmi dan yang pake sendal itu berarti gak
resmi?? Dan
atau yang lebih berat, sejak kapan orang yang pake sendal itu berarti gak sopan
dan yang pake sepatu itu berarti sopan??”. Suatu lontaran sederhana yang
menurutku tak sederhana. kalau aku fikir-fikir benar juga ya. sejak kapan kita
anut faham itu, kalo kita telisik dari segi budaya. berarti orang indonesia itu
gak ada yang resmi apa ya, kan pakenya bakiak. bahkan kaum yang priyayi seperti
di kesultanan atau kiyai pesantren pun makeknya sendal atau bakiak. dan lagi,
menurutku budaya “sepatu=resmi” itu menindas kaum-kaum ekonomi menengah ke
bawah, karena mereka mungkin harus merelakan jatah makannya untuk mengejar
predikat “resmi” agar bisa masuk di acara-acara resmi pula. tapi untung ini
adalah INDONESIA. bukan Jepang, sebab di jepang sana kan ada pendidikan
konsumen. artinya pembelian harus sesuai dengan kemampuan pembeli. contoh,
orang yang mampunya beli sandal ya gak boleh beli sepatu. wah, kalo Indonesia
menerapkan sistem itu, bisa-bisa Indonesia dapat predikat baru dengan julukan
“NEGARA DENGAN JUMLAH PENDUDUK NON FORMAL TERBANYAK”. Hahaha
Pasrah atau dengan kata lain
“terpaksa” aku tetap berangkat kuliah, sebab, mau bagaimana lagi, aku sangat
menghargai ilmu dan ingin memperoleh sebanyak-banyaknya, jadi ya selain sekolah
di alam raya ini, aku juga ingin belajar di alam kampus, yah setidaknya
bisakenal dengan orang-orang yang berlebel inteleklah, walaupun sebagai
gantinya aku harus sering mengumpat tak jelas. Bangsat!! Nah lho, aku
mengumapat kembali, seorang mahasiswa secara tiba-tiba membelokkan motornya,
padahal aku sedang melaju kencang, tak ingin terlalu terlambat, untunglah aku
sigap, tak sampai menabraknya, huff. Lagi ku pacu sepeda motor milik seorang kawan
yang kebetulan dititipkan kepadaku, hah, 08.35 WIB sampailah aku di parkiran
fakultas, cepat-cepat aku berlari menuju kelas,dan “ANJING”, itu gumam
pertama yang keluar darimulutku setelah seorang kawan bersorak di dekat
telingaku “dosennya Cuma hadir
sampek jam delapan, setelah itu kita
ditinggal”. Sebentar, bukannya aku gak suka dosennya minggat, sebenarnya hari
ini aku memang sangat malas kuliah, tapi karena aku ingat bahwa hari ini aku
ada janji dengan dosenku ini untuk berdiskusi, maka aku bela-belain kuliah,
sampai-sampai ada adegan hampir nabrak orang segala tadi, hah, tapi ya
sudahlah, aku bisa apa selain mengumpat “BANGSAT”.
Comments
Post a Comment