Cerita Kataku
Sepertinya kata-kata marah padaku. Sejak aku meninggalkannya
diantara kelemahanku dulu, satu per satu kata beranjak pergi,
melembutkan dirinya sendiri bercampur dengan debu. Kini, aku benar-benar
membutuhkan mereka, dan mereka, sudah tak kutemukan lagi. Ah, semenja
kejadian itu, hanya ada beberapa kata yang tersisa; aku,hampa, sunyi, diam, marah, kau.
Sebenarnya ada kata yang masih hidup dan sekarang menjadi kata yang
lebih tenar dari kata-kata yang sudah hilang, tapi mereka justru kata
yang selalu kuhindari. Sejak dulu kata-kata yang sekarang sangat sering
diucapkan di televisi, ditulis di buku-buku dan koran-koran itu selalu
mengejarku. Kini mereka sudah begitu dekat. Aku menjadi sangat ngeri,
apalagi kata yang dulu kupakai untuk menghindari mereka pun kini sudah
hilang. Mereka -Sabar, kuat, melawan, berteriak- telah hilang menjadi ampas jalanan semenjak demo menjadi adat busuk.
Ah, tubuhku menggigil. Ruang-ruang berubah menjadi gumpalan es. Cahaya lari dan seketika waktu menjadi gelap. Semakin dingin dan senyap. Mereka semakin dekat. Kata-kata yang aku takutkan itu -Kuasa, Penguasa, Tindas, Penindas, duduk, kedudukan, Kelaparan!!- sudah sampai menyentuhku.
Aku tak mampu lagi, udara kembali ke peraduan demi keselamatan keturunannya. Dadaku sesak, nafasku kelaparan. Mataku mulai nyaman dengan gelap, aku, aku....
-Ku catat pesan pada selembar langit biru sebelum pekat melenakan mata dan meremas tubuh; "Kepada kau yang sudah hilang dan tak bisa menghiburku, aku rindu; Rakyat, damai, desa, hijau, padi, hujan, segar, gotongroyong, hutan, garam, ilalang, dan bawang putih!! dan, dan, dan,,,,,,,semua yg hilang. aku rindu"-
Ah, tubuhku menggigil. Ruang-ruang berubah menjadi gumpalan es. Cahaya lari dan seketika waktu menjadi gelap. Semakin dingin dan senyap. Mereka semakin dekat. Kata-kata yang aku takutkan itu -Kuasa, Penguasa, Tindas, Penindas, duduk, kedudukan, Kelaparan!!- sudah sampai menyentuhku.
Aku tak mampu lagi, udara kembali ke peraduan demi keselamatan keturunannya. Dadaku sesak, nafasku kelaparan. Mataku mulai nyaman dengan gelap, aku, aku....
-Ku catat pesan pada selembar langit biru sebelum pekat melenakan mata dan meremas tubuh; "Kepada kau yang sudah hilang dan tak bisa menghiburku, aku rindu; Rakyat, damai, desa, hijau, padi, hujan, segar, gotongroyong, hutan, garam, ilalang, dan bawang putih!! dan, dan, dan,,,,,,,semua yg hilang. aku rindu"-
Comments
Post a Comment