Bangsaku, Bangsa Asing
Dan, tiba-tiba aku
menjadi asing dengan bangsaku sendiri. Bangsa yang santun, sederhana dan tidak
banyak tingkah kini dipenuhi manusia-manusia yang tak ku kenal adat lakunya. Manusia
sebangsaku yang kini berubah menjadi bangsa yang terlampau ekspresif dan banyak
tingkah. Anak-anak muda mulai menyebutnya “Lebay”.
Ketika melihat mereka, aku seperti melihat bangsa yang jauh, Europa. Dulu,
hingga sekarang, aku sering melihat di televisi-televisi ketika bangsa yang
jauh itu menampilkan sesuatu, mereka selalu menampilkannya di luar sederhana.
misalnya, ketika mereka menemukan hal yang mengejutkan, mereka akan membuka
mulutnya selebar-lebarnya dan menggunakan kedua tangannya menutup sebagian
mulut yang terbuka itu. Di bangsaku, orang terkejut lebih bisa mengendalikan
diri. Ketika sebangsaku terkejut, kami hanya cukup dengan mengernyitkan dahi
dan merenungi yang membuat terkejut itu. Ketika tertawa, kami tidak akan sampai
terpingkal-pingkal. Di bangsa yang jauh itu juga, untuk makan harus banyak
macam, begini dan begitu. Di bangsaku, kami makan dengan sederhana. Kami cukup
bersyukur memakan hasil panen kami, beras, kedelai, ketela, jagung dan
lain-lainnya kami ramu dengan sederhana dan menikmatinya dengan cara yang
sederhana pula. Hal ini, sebab kami adalah bangsa yang merenung, bangsa yang
memahami, bangsa yang sederhana.
Tetapi, sekarang bangsaku
menjadi bangsa yang lain, bangsa yang jauh. Mereka tertawa dengan
terbahak-bahak, makan dengan berlebihan dan bertingkah dengan lebay. Kenapa? Tak tahu. Barangkali,
bangsa kita sudah tidak bisa mempercayai diri sendiri. Mereka lebih bangga
menjadikan dirinya menjadi bangsa yang lain, menjadi asing.
Bersambung….
Comments
Post a Comment