Cinta itu punya kekuatan





Sore itu udara terasa hambar. Mega merah di ufuk barat menerobos masuk ke dalam teras rumah tua. Seorang kakek dan nenek yang telah menjalani kebersamaan tak kurang dari separuh hidupnya duduk bersanding diatas ambin. Kakek dengan sarung yang telah pudar warnanya duduk dengan menyanggahkan kedua tangan diujung bambu ambin. Tubuhnya membungkuk dan kepalanya mengarah pada lantai yang dihiasi semuta-semut berlalu-lalang. Sedang nenek duduk dengan bersandar pada dinding rumah yang retak, memandang jauh pada langit yang seakan menggantungkan terlalu tinggi harapannya terhadup hidup. Terlihat olehnya burung-burung dadali terbang beriringan dengan kehitamannya, kadang ia mencurigai apakah burung-burung yang nampak gelisah itu yang telah mencuri ketenangannya, membawa lari keteguhannya terhadap cinta.
Sore itu memang menjadi kepanjangan dari kegelisahan yang selama ini menyelimuti hati dan fikiran nenek. Juga sang kakek yang sampai saat ini berjuang agar apa yang digelisahkan istrinya itu hilang. Mereka menjadi takut berbincang sekarang, setiap perbincangan menjadi peperangan. Dan, mulailah lagi peperangan itu.
”Dalam keadaan kemanusiaannya, ada nalar yang harus dipertemukan antara kita berdua, kita tidak selamanya sama, tapi merasakan bisa lebih mendekatkan ke-kitaan kita, aku pernah jatuh cinta padamu, pada sebuah malam dimana aku lepas dari kesadaranku, tapi,”
 “ Bukankah kini kau sendiri yang mau melupakanku?”
“Memang, tapi dulu dan sekarang selalu berbeda”
“Apa bedanya?”
“Waktu, waktu selamanya menyimpan peristiwa yang berbeda”
“Aku tidak mengerti apa yang kau katakan”
“Aku tidak mengerti apa yang aku rasakan”
“Kau sudah tidak mencintaiku lagi”
“Bahkan aku tak pernah tak mencintaimu”
“Lalu, kenapa kau hendak pergi meninggalkanku?”
“Waktu”
“Waktu yang bagaimana?”
“Waktu yang dalam peristiwanya berisi perpisahan”
“Perpisahan apa?”
“Perpisahan kita”
“Harus kita yang berpisah?”
“Karena memang ini waktu kita”
“Aku tak bisa menerima perpisahan ini”
“Aku juga tidak pernah bisa menolak perasaan ini”
“Bahagaialah engkau ketika cintamu padaku tak lagi punya dayanya”
“Kalau kau tahu, ini sangat menyiksa”
“Seberapa tersiksa engkau dari aku?”
“Mungkin memang tak sesakit engkau, tapi”
“Sudahlah, aku paham”
“Apa yang kau pahami?”
“kau memang sudah tak ingin bersamku lagi”
“Begitu saja?”
“Ya, aku tak bisa membaca alasan, hanya sekedar kau mau berpisah denganku.”
“Tapi kan kau tahu aku masih sangat mencintaimu?”
“Ya, cinta yang tak sekuat dulu lagi, cinta yang sudah kehilangan dayanya untuk berjuang dalam cinta. Singkatnya, kau menyerah pada keadaan yang menjadi lingkar pengganggu dari perjalanan ini”
“Memang aku yang kalah, tapi memang harus begini”
“Menurutmu memang begitu, tapi bagiku yang tetap dalam kekuatan cintaku, semua yang kau katakan adalah perihal kekalahan, kekalahan.”
Lelaki tua itu menunduk. Tak lagi meneruskan apa yang sedang ditarungkan. Si wanita dengan selendang tua di pundak, duduk disebelahnya memunggungi.  Cucu-cucu mereka berlarian berebut remot TV. Anak mereka bermanja dengan pasangannya. Tiba-tiba,
“Jauh lebih sulit belajar melupakanmu dibanding belajar mencintaimu nek..”
“iya, aku paham itu.”
“apa yang kau pahami??”
“Ah,”
Lelaki tua dengan bayang-bayang masalalu dalam benaknya beranjak dari ambin kering itu. Cinta yang selama ini mengendap dalam hati lelaki memang tak mudah gugur dalam kekokohannya. Teringat saat bermesra di sebuah pinggiran sungai pedesaan, juga saat pernikahan mendebarkan dan menggetarkan. Sang kakek yang masih menyimpan kekuatan dalam cintanya tak beda dengan lalu, menangis, dengan tubuh yang telah renta dan lemah,  tersedu-sedu bagai bocah yang kehilangan ibunya ditengah pasar. Bingung dan rindu. Istrinya, yah, istrinya sendiri yang sudah bernafas tanpa aturan dan keriput itu menginginkan perpisahan. Perpisahan selamanya memang menakutkan. Tapi bagi nenek ini, kebersamaannya akan lebih menyakitkan. Cinta memang tak mudah dijelaskan. Nenek itu masih mencintai suaminya, yah, masih mencintai, bahkan tak ada bedanya dengan dulu. Tapi, ah, ‘tapi’ adalah kata yang menyebalkan, kata yang membalikkan apa yang dikatakan, kata yang digunakan berlindung dari kesalahan. Nenek itu sendiri sebenarnya tak paham, kenapa tiba-tiba perasaan tak lagi nyaman, ingin enyah saja dari tenpat yang telah bertahun-tahun menimangnya dengan cinta. Bukan hanya kakek yang setia itu, juga anak-anaknya, cucu-cucunya yang sering membelai dadanya dari nafas yang semakin sesak.
Nenek dengan mata yang tak lagi jelas memangdang, kini memandang jelas apa yang ada disekitar tubuhnya, luka. Luka yang lama telah tertahan dan memang saatnya meledak. Bau busuk, menjijikkan, jelas sang kakek tak mau merasakan kegetiran itu.

Comments

Popular posts from this blog

Kenangan