Berkecipak
Banyak yang merintih di dalam status, seakan hidup sependek kata-kata.
Pagi itu, Si Mbah Ahmat Sofyan yang berjuluk Pandito Wagu mengajak para murid 'Awur Dub Nyuk' untuk mengetahui apa itu bahagia. Sekian banyak yang diajak, alhamdulilah yang berangkat hanya Nyuk dengan beliaunya. Nyuk diajak ke sebuah sumber mata air, dimana disana Mbah Pandito Wagu banyak memuntahkan Sabda Pandito Wagunya. Saat melihat beningnya mata air, beliau berhenti sejenak dan langsung bersabda, "Nyuk, melawan arus adalah menemui mata air. Kamu tau muara? Sekarang isinya banyak sampah dan limbah". Suaranya dibesar-serak-basahkan, usaha untuk mbijaksini yang tentu wagu*. Tapi apapun itu, Nyuk menghormati apa yang dikatakan, bukan cara atau siapa yang mengatakannya. Maka, seketika itu pun Nyuk sungkem dan mengapu-rancang kepadanya. "Sendiko dawuh, 'Mbah Pandito Wagu'." Kemudian mereka berjalan lebih mendekat pada sumber mata air itu, melewati 'galengan'* sawah yang becek. "Lihatlah nak, 'galengan' ini adalah pembatas harta para petani, tidak perlu ada tentara disini bukan? Padahal bagi petani, sawah adalah nyawa.". Nyuk hanya terdiam, belum tentu dia mengamati apa yang dikatakan oleh Pandito Wagu. Mereka kemudian sampai pada kolam mata air tersebut, beberapa anak kecil dan orang-orang dewasa sudah berenang terlebih dahulu disana. "Tidak ada tiket dan tidak ada yang melihat ini sebagai peluang bisnis nak. Bagi para warga sekitar, kita yang kesini adalah tamu atau orang-orang yang 'dolan'*, bukan wisatawan." Si Mbah tidak bisa diam, sedang Nyuk asik melihat perempuan berenang. Perempuan yang kira-kira berusia 7 tahun. Sepertinya si Mbah Pandito Wagu menyadari hal tersebut, kemudian dia bersabda "Wolak walik ing jaman kui, podo karo wolaj walik ing lambe, lambe nisor dadi lambe duwur, lambe nisor luwi okeh dileboni tinimbang lambe duwur". Nyuk kurang memperhatikan apa yang dikatakan Mbah Pandito Wagu tersebut. Nyuk langsung menghampiri perempuan kecil itu, membantunya menangkap ikan-ikan yang juga kecil, yang mana ikan-ikan kecil itu belum sempat dimakan oleh ikan-ikan besar. Si Nyuk mengandalkan kedua tangannya sedang si perempuan kecil itu menggunakan 'tumbu'*. Di sana Nyuk larut, dia tidak lagi mencerna tetapi merasakan, bahwa bahagia itu sederhana, sesederhana mata air melahirkan muara-muara.
*Wagu : Susah membahasa Indonesiakannya, ada yang bisa membantu?
*Galengan : Pembatas Sawah
*Dolan : Main
*Tumbu : Belum diketahui Bahasa Indonesianya, ada yang tahu?
*Dolan : Main
*Tumbu : Belum diketahui Bahasa Indonesianya, ada yang tahu?
#MuntahSekarepnya
#DubNyukisme
Comments
Post a Comment