Mengenali Aku
Akhirnya waktu benar-benar menggulungku Melenakanku pada hidangan-hindangan dunia yang mengalihkan diriku, mengasingkan kedirianku jauh menyendiri dalam diri. Hingga, hidup berjalan seperti tetes embun, menetes untuk pagi dan pergi karena matahari, tak pernah ada waktu untuk menguasai diri. Dan, siapakah aku? sepasang pipi kering dan mata sembab. Dan, siapakah aku? Sejangkar tulang ringkih dan perut melengkung ke dalam. Sampai saatnya tiba, Aku memelasi diri sendiri. Baru kusadar memang tk pantas aku menyedekahi selain aku Sebab, diri masih terlampau sembilu. Ah, Aku.. Melupakan aku.. Bukan untuk aku.. Barangkali, Melupakan diri adalah kenistaan mata yang terdalam.